Saturday, May 7, 2016

Sejarah Kondisi Daerah Pecinan

KONDISI DAERAH PECINAN
Kedatangan saudagar-saudagar dari Pakistan, India, Arab serta Negara Timur Tengah Semarang ikut memberi kontribusi bagi terbentuknya sejumlah kampung baru. Mereka bukan hanya datang untuk berdagang saja, tetapi juga ikut bermukim dan menetap. Pemukiman itu lantas berkembang dan menjadi sebuah kampung sendiri. Misalnya saja orang-orang Tionghoa yang berkumpul dalam suatu wilayah dan menjadikannya wilayah tersebut daerah orang-orang Cina. Daerah tersebut dinamakan daerah PECINAN. Awalnya daerah tersebut sangat kecil dan terbatas dan orang tidak akan merasa susah dalam pencarian suatu tempat. Kemudian makin meluas karena banyaknya orang-orang Cina yang hijrah dan menetap disana. Waktu itu, gang-gang di Semarang juga belum memiliki nama-nama tertentu yang memudahkan orang dalam menyebutkan area tersebut. Nama-nama daerah tersebut yang sekarang ini diketahui banyak orang, antara lain: Pekojan, Jagalan, Petudungan, Beteng, Wot Gandul Timur, Wot Gandul Barat, Sebandaran. Dari nama-nama jalan tersebut terdapat gang-gang yang membedakan gang satu dengan yang lain, yaitu: Lombok, Petolongan, Pinggir, Kapuran, Tireman, Kulitan, Kulitan, Besen, Warung, dan sebagainya. Masing-masing daerah memiliki sejarahnya masing-masing dan dari keseluruhannya nama-nama tersebut saling berkaitan. Misalnya saja daerah Pekojan yang merupakan salah satu diantaranya. Kampung ini  dulunya hanya berupa hutan dan tegalan. Suasananya sangat gelap, dan sunyi. Bahkan mereka yang melewati kawasan tersebut merasa takut karena terdapat kuburan orang Tionghoa.
Pada tahun 1797, penguasa Belanda menebangi hutan yang berada di kawasan tersebut, yang kemudian dirombak menjadi kawasan pemukiman. Pekuburan Tionghoa dipindah ke kaki Candi, Gergaji, dan Siranda. Proses perpindahan makam itu dikatakan sempat menimbulkan ketegangan antara masyarakat Tionghoa dan Pemerintah Belanda. Ketika itu, masyarakat Tionghoa tidak begitu saja menerima rencana pemindahan makam kuno tersebut. Hal yang harus dilakukan yaitu melakukan ritual-ritual tertentu untuk menghindari hal-hal yang seharusnya tidak terjadi. Dan akhirnya diadakan upacara untuk menolak bala. Salah satu peninggalannya adalah sebaris huruf Cina yang dipahatkan di Jalan Pekojan. Hingga saat ini masih bisa dilihat. Selang beberapa waktu kemudian, para pedagang Koja mendiami kawasan tersebut higga jumlahnya makin banyak sampai sekarang. Kemudian kawasan tersebut dikenal dengan sebutan PEKOJAN. Saat ini Pekojan menjadi kawasan padat pertokoan dan pemukiman. Namun anehnya, para koja yang dulu menjadi perintis malah banyak meninggalkan kawasan ini. Yang tersisa hanyalah tiga kepala keluarga. Kebanyakan mereka pindah ke kampong sebelahnya, yaitu Petolongan. Dan menurut sumber, daerah Petolongan adalah dulunya merupakan daerah yang dimana orang khususnya orang Tionghoa ingin mendapatkan pertolongan karena mereka merasa dalam keadaan bahaya. Jiwa mereka terasa terancam karena adanya pembantaian orang-orang Tionghoa. Kemudian mereka lari ke suatu tempat yang sekarang disebut jalan Petolongan. Para penghuninya kebanyakan memang orang Tionghoa. Ada lagi cerita mengenai daerah selain Pekojan dan Petolongan. Disana terdapat penduduk yang kebanyakan mereka berprofesi sebagai tukang potong hewan yang disebut sebagai jagal. Maka nama daerah tersebut dinamakan JAGALAN. Tepat disebelah daerah itu, terdapat perkampungan dimana penduduknya menerima hasil dari sisa-sisa para jagalhewan tersebut. Antara lain kulit yang kemudian disamak oleh mereka. Sehingga dari situlah mereka menyebutnya sebagai KAMPONG KULITAN.
Orang-orang Tionghoa yang tinggal di Semarang mempunyai kehidupan yang semakin hari semakin baik. Waktu itu masih disebut daerah Pecinan Lor yang sekarang ini disebut sebagai Gang Warung. Daerah tersebut sangatlah ramai dikunjungi baik orang Pribumi maupun orang Tionghoa sendiri. Tempat tersebut merupakan pusatnya perhubungan. Dari daerah tersebut mereka bisa berhubungan dengan orang sebelah barat yaitu dengan kampung orang pribumi yang sekarang dikenal sebagai daerah Kranggan dan pasar Semarang atau pasar Damaran. Sedangkan yang sebelah utara, orang-orang dapat menuju daerah-daerah kecil dengan melintasi sungai yang ada dipinggiran kali. Nama daerah tersebut dikenal sebagai daerah Petudungan. Selanjutnya dapat tersambung dengan daerah kecil lainnya misalnya yang sekarang ini menjadi Pandean, Jeruk Kingkit, Ambengan, dan lain-lain.
Berikutnya yaitu nama daerah yang sebagian besarnya adalah berprofesi sebagai bandar. Kata “bandar” disini bukan bandar dalam makna yang negatif. Bandar disini merupakan kata selain sebutan buat orang kaya yang benar-benar sukses. Maka nama daerah tersebut dinamakan SEBANDARAN. Tetapi waktu itu jalan yang melintas daerah Sebandaran belum ada. Jadi, hanya ada jembatan kecil yang menghubungkan satu daerah ke daerah lain. Misalnya saja ketika orang yang melintas Jagalan yang awalnya menghadap ke Ambengan. Orang-orang dapat menyeberangi jembatan kecil tersebut menuju ke daerah Pecinan sebelah selatan dengan menyeberang diatas jembatan kecil tersebut. Daerah itu dikenal dengan nama GANG PINGGIR. Adapun daerah yang kebanyakan penduduknya menjual aneka grabah, misalnya piring, gelas, cangkir, dan mangkok. Maka daerah tersebut disebut GANG MANGKOK.
Didalam gang-gang lain yang telah dituturkan masih merupakan tanah-tanah kosong yang waktu itu masih terasa sangat menyeramkan. Ditepi-tepi jalan terdapat pohon asem dan masih berupa tegalan. Jalan-jalan tersebut juga masih sangat sepi dan membuat orang membayangkan betapa menakutkan jika orang melintas daerah tersebut. Gang-gang tersebut antara lain Gang Belakang, Gang Besen, Gang Tengah, Gang Gambiran.
Saking banyaknya orang Tionghoa yang tinggal di Semarang, mereka kemudian mendirikan rumah-rumah yang kokoh, tidak lagi berupa papan atau kayu. Pada tahun 1672 mereka mulai mendirikan rumah bertembok dan berpayon genteng. Rumah- rumah tembok yang didirikan terlebih dulu yaitu daerah Pecinan Lor (Utara) dan Pecinan Wetan (Timur) atau yang sekarang disebut Gang Warung dan Gang Pinggir. Para pekerja atau tukang batu-pun sangat susah didapatkan. Maka, mereka mencari para pekerja Tionghoa dari Batavia karena hanya dari tempat tersebut mereka mendapatkan para pekerja Tionghoa yang pandai membuat rumah tembok. Ongkos yang dikeluarkan pada saat itupun tidaklah sedikit. Karena, bahan-bahan pembuatan rumah masih sangat langka dan tidak mudah dicari. Misalnya saja kapur atau semen. Bahan tersebut harus didatangkan dari tempat lain yang memakan waktu yang lama. Selain itu, menghabiskan banyak tenaga dan uang. Untuk mengangkut barang masih menggunakan tenaga kuda, yang oleh orang Tionghoa disebut BÉ-TOO. Karena jalannya masih sempit, terjal, berliku, naik, dan turun, maka mereka memilih tenaga kuda sebagai alat transportasinya. Karena mereka beranggapan bahwa hanya kuda yang mampu melakukan pekerjaan itu dengan baik.
Pembuatan rumah tembok yang masih terhitung mahal membuat orang berpikir untuk melakukannya. Hanya orang Tionghoa yang cukup atau saudagar besar saja yang melakukan hal tersebut.
Kembali berbicara mengenai daerah di Pecinan. Pecinan wetan (Timur) disebut oleh orang Tionghoa sebagai Tang-kee atau jalan wetan karena letaknya memang disebelah Timur. Sementara Gang Baru terkenal dengan sebutan Say-kee atau jalan barat, lantaran letaknya memang demikian. Tetapi belakangan oleh orang Tionghoa, sebutan itu di tujukan pada Gang  Belakang. Salah satu pedagang China yang tinggal di Kampung China (Pecinan) adalah Khouw Ping. Dia mentetap di daerah Tang Kee (Pecinan Wetan), sekarang di sekitar Gang Pinggir. Tuan Khouw Ping dikenal sebagai saudagar China yang dermawan dan berjiwa sosial tinggi. Banyak pedagang asal China yang dibantu oleh Khouw Ping. Misalnya, menyediakan gudang penyimpanan barang, perahu, dan penginapan. Walhasil, para pedagang China pun semakin berkembang. Setiap ada yang datang, pasti akan menguhjungi beliau karena beliau menyediakan gudang untuk menyimpan barang-barang mereka. Untuk mrengangkut barang-barang, mereka menggunakan perahu-perahu kecil yang menyusuri pinggiran kali kecil daerah Pecinan Wetan yang sekarang dikenal dengan nama KALI KOPING. Nama tersebut diambil dari Tuan Khouw Phing itu sendiri.
Mengenai usaha orang Tionghoa dalam melanjutkan hidup di daerah Semarang khususnya di Pecinan, banyak sekali usaha yang mereka punya dan dirikan. Sebelumnya telah kita singgung diatas, banyak perusahaan orang Tionghoa yang makin lama berkembang dengan pesat dan maju. Hal tersebut mengajak para saudagar lain untuk melakukan hal yang sama dibidang perdagangan. Dan akhirnya jumlah mereka bertambah banyak. Kemudian mereka berbondong-bondong dengan membawa barang-barang yang dianggap laku disana, misalnya saja hasil pertanian atau perkebunan; lada, pala, kayu manis, dan lain-lain semacam rempah-rempah. Perusahaan yang penting bagi orang Tionghoa pada masa itu ialah perusahaan minyak kacang dan lilin. Kegunaan dari minyak kacang yaitu digunakan untuk memasak dan lampu penerangan. Sama halnya seperti pembuatan rumah, hanya orang Tionghoa yang mampu saja yang menggunakan minyak kacang sebagai lampu penerangan. Tempatnya-pun sangat besar karena sumbu-sumbunya besar pula. Dari keseluruhan usaha orang Tionghoa pada masa itu serasa mengajak para saudagar mendirikan perusahaan. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, banyak perusahaan rokok, gedung bioskop, dan rumah makan atau restoran. Rata-rata pemiliknya yaitu orang Tionghoa.
Dari usaha-usaha tersebut menjadikan daerah Pecinan bertambah maju dan berkembang. Hal itu dapat dilihat dengan padat dan tingginya jumlah penduduk yang ada disana, serta munculnya berbagai macam toko yang bergerak dibidang apa saja. Semua kebutuhan dapat ditemukan disana, mulai barang yang digunakan sehari-hari maupun barang-barang mewah. Semua barang dapat kita peroleh disana.