Saturday, May 7, 2016

PINDAHNYA KONG KOAN KE TAY KAK SIE

PINDAHNYA KONG KOAN KE TAY KAK SIE
Di masa lalu, masyarakat Tionghoa dikota Semarang sangat mementingkan letak bangunan. Tak heran, untuk mendirikan sebuah bangunan, mereka sangat memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Atas dasar keyakinan tersebut sekitar tahun 1771, masyarakat Tionghoa yang berasal dari golongan atas, berkeinginan untuk memindahkan Klenteng Kwan Im Ting di  dekat Bale Kambang atau sekarang yanga disebut Gang Blumbang ke tempat baru yang lebih baik.
Namun, pada awalnya keinginan tersebut tidak berjalan dengan mulus. Namun, setelah dilakukan perundingan beberapa kali, akhirnya diputuskan untuk memindahkan klenteng tersebut ditepi Kali Semarang yang oleh masyarakat Tionghoa disebut Kang Kie. Belakangan hari, daerah klenteng tersebut dipindahkan dan disebut Gang Lombok. Dituliskan oleh Liem Thian Joe dalam bukunya Riwayat Semarang yang telah diterbitkan oleh Hasta Wahana (2004), pembangunan Klenteng tersebut menghabiskan dana yang sangat besar. Para pekerjanya-pun didatangkan langsung dari Tiongkok.
Pembangunan klenteng tersebut dapat diselesaikan dalam waktu satu tahun. Oleh masyarakat Tionghoa, klenteng tersebut dinamakan Tay Kak Sie. Pada saat memindahkan patung-patung dari Klenteng Kwam Im Ting menuju klenteng baru dan kemudian diadakan suatu perayaan yang meriah. Pada tahun 1845, Klenteng Tay Kak Sie mengalami renovasi pertama.
Dengan pertimbangan untuk lebih mendekatkan lokasi gedung Kong Koan dengan warga, maka pada tahun 1837, Majoor Titulair Tan Hong Yan mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda yang berkuasa saat itu untuk diizinkan memakai sebidang tanah di sebelah Klenteng Tay Kak Sie, yang waktu itu masih berupa kebun lombok. Kebetulan lokasi lahan itu cukup dekat dengan pemukiman warga China. Rupanya permohonan Majoor Titulair Tan Hong Yan itu dikabulkan oleh pemerintah. Maka, di lahan kebun lombok itupun didirikan bangunan untuk gedung Kong Koan. Dan setelah gedung itu berdiri, Majoor Titulair Tan Hong Yan kemudian memberi nama Tjie Lam Tjay. Kata Tjie Lam Tjay sendiri berasal dari kata Tji = jari penunjuk, Lam = selatan digabung menjadi satu berarti kompas dan Tjay = rumah, bangunan. Berdasarkan nama Tjie Lam Tjai kegiatan yang dilakukan yaitu bertujuan dalam sosial. Tjie Lam Tjay bisa dikategorikan sebagai information center (pusat informasi).
Sejak itu, Tjie Lam Tjay juga berkewajiban memelihara klenteng, memberikan bantuan kepada orang Tionghoa yang meninggal dalam keadaan miskin dan terlantar, serta mengurus makam Tionghoa. Lambat laun, pendatang China yang terlibat dalam Tjie Lam Tjay pun semakin banyak. Karena itu, oleh tuan Gan Kang Sioe, Tjie Lam Tjay diajukan permohonan menjadi Veereniging atau semacam perhimpunan/perkumpulan kepada pemerintah Hindia Belanda. Permohonan itu dikabulkan, dan Tjie Lam Tjay mendapat Hak Rechtspersoon.
Pada tanggal 7 Pebruari 1931, Resident di Semarang telah menyatakan sesuai dengan keputusan pemerintah bahwa Chineese Raad atau yang orang Tionghoa disebut Kong Koan akan dihapus. Dengan terhapusnya Kong Koan, maka sistem perkantoran Kong Koan-pun ikut berubah. Dan kemudian nama dari Kong Koan berubah menjadi Tjie Lam Tjay. Secara otomatis, tugas-tugas dari Kong Koan beralih ke Tjie Lam Tjay.
BERDIRINYA KONG TIK SOE
Kong Tik Soe adalah sebuah tempat atau rumah penitipan abu bagi orang-orang Tionghoa yang telah meninggal. Kata Kong Tik Soe memiliki arti dan maksud tujuan di bidang sosial. Kong= umum, Tik= budi, kebajikan, dan Soe=leluhur. Jadi, maksud dari kata Kong Tik Soe sama dengan kalimat yang telah diuraikan diatas, yaitu bergerak dibidang sosial.
Menurut sumber yang telah ada, Kong Tik Soe berdiri pada tahun 1845 atas kerja sama antara Khouw Giok Soen, Tan Hong Yan, dan Be Ing Tjioe. Mereka telah berdiskusi dalam perombakan Kong Koan lama menjadi sebuah tempat atau gedung baru yang dapat berguna bagi orang yang membutuhkan. Menurut orang-orang Tionghoa, Khouw Giok Soen merupakan saudagar yang terkenal pada masa itu di Gang Warung. Jadi, dari ketiga orang tersebut Majoor Titulair Tan Hong Yan, Tuan Khouw Giok Soen dan Majoor Bhe Ing Sioe adalah orang-orang penting yang memprakarsai pembangunan gedung Kong Tik Soe di sekitar Tay Kak Sie.
Bersamaan dengan berdirinya Kong Tik Soe, klenteng Tay Kak Sie-pun juga direnovasi. Renovasi Tay Kak Sie yang pertama yaitu pada akhir tahun 1845 yang beberapa kemudian jabatan dari Tuan Be Biauw Tjoan naik menjadi seorang Luitenant. Maksud didirikannya Kong Tik Soe dinyatakan kedalam sebuah prasasti yang terpahat pada sebuah batu yang dipasang disebelah kanan, yang memperjelas kegunaan dari Kong Tik Soe.
Setelah perbaikan klenteng tersebut, kemudian didirikanlah Gedung Kong Tik Soe agar selamanya dapat memberikan kebajikan pada seluruh rakyat. Bagian tengah pada tempat tersebut digunakan untuk sembahyang bagi keluarga kaya. Pada bagian pinggir digunakan untuk orang yang tidak memiliki ahli waris. Berdirinya gedung tersebut juga memiliki tujuan dalam memberi pertolongan para pejalan yang sengsara baik laki-laki maupun perempuan, tua atau muda, dan anak-anak yatim piatu yang tak berpendidikan dan tak mampu bersekolah. Semua harus mendapat perlakuan yang sama dalam mendapat kasih. Di tempat itu juga didirikan sekolah guna memberikan pendidikan bagi anak-anak.
Dengan berdirinya Tay Kak Sie dan Kong Tik Soe yaitu memberi tahu pada orang-orang dikemudian hari supaya dilestarikan dan mengharapkan sepenuh hati pada orang-orang kaya waktu itu, agar bersedia membantu untuk hal yang bertujuan mulia tersebut.
Gedung Kong Tik Soe dibagi menjadi beberapa ruangan. Ruangan yang berada disebelah barat digunakan untuk Kon Koan, tetapi pada waktu itu belum terjadi adanya suatu kesatuan atau badan yang sah karena Kong Koan baru diakui oleh pemerintah sekitar tahun 1885. Sementara bagian tengah, dipakai sebagai tempat sien-Tji atau tempat pemujaan leluhur, seperti yang telah dikemukakan pada sebuah prasasti. Orang yang yang ingin mengirim sien-tji dari sanak keluarganya yang telah meninggal dikenakan biaya perawatan sien-tji sekitar ƒ1000 untuk meja yang ditengah dan ƒ400 untuk peletakan sien-tji sebelah kanan atau kiri. Harga tersebut  dipasang tanpa pandang bulu dari kalangan mana mereka yang ingin menitipkan sien-tji.
Kemudian pada Majoor Be Biauw Tjoan, Kong Tik Soe membuat satu keputusan yang menghapus harga penitipan sien-tjie. Hal tersebut dipertimbangkan lagi dengan tujuan berdirinya Kong Tik Soe di bidang sosial. Kong Tik Soe juga terbuka untuk semua kaum yang ingin menitipkan sien-tji-nya.
Berdirinya Kong Tik Soe ternyata ada kaitannya dengan berdirinya Tji Lam Tjay dan Kong Koan. Mengapa demikian? Karena kantor Tji Lam Tjay dan Kong Koan berada didalamnya. Gedung bagian sebelah kanan Kong Tik Soe digunakan sebagai kantor Tji Lam Tjay. Sedangkan yang sebelah kiri ialah Kong Koan.
TERBENTUKNYA YAYASAN TJI LAM TJAY
Seperti yang telah disinggung sedikit diatas, Tji Lam Tjay telah berdiri sekitar pada tahun 1837 atas pengajuan permohonan Kapitein Tan Hong Yan yang berubah gelar menjadi Majoor Titulair karena jasa-jasanya terhadap kemajuan orang Tionghoa. Beliau mengajukan sebidang tanah yang berada disamping Tay Kak Sie, yang pada waktu itu masih berupa kebun lombok untuk didirikan sebuah yang berfungsi sebagai tempat atau wadah dalam melakukan berbagai tugas dari Kong Koan. Asal tempatnya yang berawal hanya kebun lombok, maka tempat tersebut terkenal dengan sebutan Gang Lombok. Dan klenteng yang berada didekatnya pun disebut dengan Klenteng Gang Lombok. Menurut Tuan Tan Hong Yan, dengan berdirinya sebuah kantor yang terletak berada di jalan tersebut, itu merupakan hal yang baik. Kenapa? Karena banyak orang Tionghoa yang mendirikan kampung dan menetap disana.
Karena letaknya yang dekat dengan kampung orang Tionghoa, maka kantor tersebut dijadikan sebuah tempat dimana orang Tionghoa dapat mencari petunjuk disana. Oleh tempat itu yang hanya berupa sebuah Kong Koan, lambat laun oleh Tuan Tan Hong Yan di ubah menjadi Tji Lam Tjay, yang berarti sebuah kantor penunjuk. Sebab, disini orang-orang dapat meminta petunjuk yang sesuai dengan permasalahan mereka masing-masing. Karena para petugasnya bukan terdiri dari satu orang saja, dan agar masing-masing petugas dapat melakukan hal yangb baik untuk bangsanya, maka Tuan Tan Hong Yan menyarankan agar mereka datang di Kong Koan atau Tji Lam Tjay secara bergiliran. Hal itu mempermudah dalam pembagian mengurus masalah orang-orang Tionghoa. Hal tersebut terjadi sekitar tahun 1837. Pada tahun tersebut pulalah Tji Lam Tjay terbentuk.
Saking banyaknya tugas Kong Koan dan Tji Lam Tjay, keduanya kemudian dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama yaitu mengurus tugas yang menyangkut denag kepolisian, pajak, undang-undang, perkawinan, kematian, kelahiran, dan lain sebagainya. Yang kedua yaitu mengurus dan merawat klenteng-klenteng, menolong orang miskin yang meninggal dan terlantar, mengurus tanah perkuburan orang Tionghoa, dan sebagainya. Kemudian Tji Lam Tjay dijadikan sebuah vereeniging yang oleh Tuan Gan Kang Sioe diajukan hak rechspersoon.
Pada saat itu, kegiatan yang dilakukan keduanya sangat mulia, khususnya Tji Lam Tjay. Maka orang Tionghoa menginginkan Tji Lam Tjay tetap ada dan sampai sekarang kegiatan yang dilakukan oleh Tji Lam Tjay tetap aksis. Tugas-tugas dari Tji Lam Tjay kemudian oleh Prof. Koo Tjay Sing, S.H. sebagai penasehat hukum mulai membenahi tugas kewajiban Perkumpulan Tjie Lam Tjay terutama dalam bidang keuangan. Hal inilah yang mendasari terbentuknya Yayasan Tjie Lam Tjay dan Yayasan Klenteng Besar Gang Lombok sesuai dengan nasehat dari Tuan Njoo Bhek Gee. Disamping itu, Perkumpulan Tjie Lam Tjay masih tetap aksis sampai saat ini.
Tjie Lam Tjay mendapatkan pengesahan sebagai YAYASAN dengan Akta No. 34, tgl. 11 Juni 1963, Notaris Tan A Sioe, dengan nama “ Yayasan Dana Kematian Tjie Lam Tjay”. Selanjutnya Yayasan Tjie Lam Tjay mempunyai tugas mengurus penguburan dan barang-barang untuk mengubur, serta merawat kuburan orang–orang yang meninggal dunia dalam keadaan terlantar atau keluarganya tidak dapat diketahui keberadaannya ataupun dari golongan yang tidak mampu. Dalam hal ini, yayasan Tji Lam Tjay tidak pernah memilah-milah atau pilih kasih dalam membantu seseorang yang sedang kesusahan. Meskipun namanya telah berganti menjadi sebuah yayasan, tetapi tugas yang dijalankan masih bersifat sosial terhadap sesama.
Sedangkan untuk Perkumpulan Tjie Lam Tjay mempunyai maksud dan tujuan yaitu memelihara klenteng Tay Kak Sie di Semarang. Hal ini ditujukan dalam arti kata yang seluas-luasnya, termasuk juga menyelenggarakan sembahyang, bekerja sama dengan klenteng–klenteng dan badan–badan keagamaan lainnya. Selain itu juga mengurus atau memberikan bantuan untuk penguburan jenasah orang–orang yang meninggal dunia di Semarang dan yang keluarganya dalam keadaan kurang maupun tidak mampu.
Adapun nama-nama tokoh yang berperan dalam Tji Lam Tjay pada waktu itu sampai sekarang selain Prof. Koo Tjay Sing, S.H. antara lain:
NO.
NAMA
NO.
NAMA
NO.
NAMA
1
TAN TIANG TJHING
43
TAN GEE HOEN
85
POO SOEN KOK
2
TAN HONG YAN
44
KIE TING TONG
86
PAUL SAERANG
3
TAN TJONG HOAY
45
LIEM KIEM SIANG
87
WONG AMAN G.W.
4
GAN KANG SIOE
46
TJIOE PING HWIE
88
OEI TJANG TJOE
5
KHOUW GIOK SOEN
47
TJENG TJIEN HIAN
89
TAN ENG SIE
6
BE ING TJIOE
48
LIEM GWAN SOEN
90
LIEM KHA KING
7
KIEM SWA (L)
49
SIE KING IEN
91
LILIK ARIS P.H.
8
TAN THIAN LAM
50
ONG YONG HWIE
92
ROY AGUNG B.
9
KIEM TJHIANG (L)
51
LOE ING LIEM
93
EKO WARDOJO
10
SOEI TJHING (L)
52
NEE KIEM HWAT
94
TJIOE WIE BING
11
LIE GIEN SAY
53
KWEE KEH YOE
95
TAN HONG SWAN
12
THUNG DJIEN SING
54
OH KIM TJONG
96
LIEM IE IE
13
TAN KIOE LIONG
55
ANG TIANG SING
97
TAN HING TIONG
14
LOA HOK SING
56
TAN KING GIE
98
TAN SIANG FU
15
LIEM SA LAK
57
BEH KWAT KING
99
LEI LIANG THE
16
HOO KONG SING
58
OEIJ MO SING
100
LINA
17
THE TING LIAUW
59
TING SAM HIEN
101
OEI SIOE YEK
18
TAN PHAN KWA
60
SIE KIEN KIE
102
PHAN PIE IE
19
TAN KEE SING
61
LIEM TJIEN IK
103
TAN LAN SIANG
20
TAN GIOK IN
62
TAN THIAM SING
104
HERLINA
21
TIK GOAN (L)
63
ANG SIOK LIE
105
MAGGIE SUKAMTO
22
123 ORANG
64
GHO TJIANG
106
TAN DJAY LAN
23
Ny. TANDJOENG TÊNG BING NIO
65
OUW TJIAUW POET
107
METTA PRANOTO
24
Ny. TAN GIOK IN
66
OEI BOEN SIAH
108
TAN GIOK LING
25
Ny. OEI KONG TAM
67
TJOA KENG THIAM
109
TAN EK DJUN
26
Ny. SIEM KOEN PING
68
KWEK THIAM SIOE
110
TAN GIOK SENG
27
Ny. ONG HONG HOAT
69
GO THIAM BING
111
TJOE SHIA ING
28
BE BIAUW TJOAN (M)
70
LIE KIANG DJOE
112
THIO BWEE SIEN
29
NJOO BHEK GEE
71
SIH KIK YAUW
113
DONNY SALIMAN, dr
30
SIE KHAY HIE
72
KHOUW KIAN HOO
114
TAN SANGHA SARI, dr
31
LIEM MO LIEN
73
TAN BING OE
115
CHEN SU YEN
32
TAN SIAUW LIP (M)
74
LIE ING LIM
116
DJUNAEDI
33
LIEM KIOK LIAM
75
SIE POEN LIP
117
LIEM TIEN NIO
34
OEI DJIE SIN
76
OEI BOEN HWAT
118
NANCY DJUWITA OENTORO
35
TIO KIAT LIAN
77
LIEM TJIEN HOO
119
LILY MARLINA
36
TAN TOEN HWAN
78
SIE ING LIONG
120
TAN DAVID PUTRANTO
37
TJOA HIAN IE
79
WIDJAJA SUTANDIJO
121
JAUW HILDA LESTARI D
38
LIEM PEK HIAN
80
ONG TIONG WAN
122
ONG HONG SWAN TONNY
39
TAN SING HWIE
81
THIO TEK DJOEN
123
LIE KHA LENG
40
LOE SIOE TIK
82
KO TJAY SING, Prof
124
HERU GUNADI
41
TIONG SIOE THIAM
83
SLAMET SANTOSO, SH
125
CONNY SYLVANIA SANJAYA
42
OH KANG HAN
84
PHAN WOEN SIOE
126
EDHY SUTANTO

Read more ...

TERBENTUKNYA KONG KOAN (Chineesche Raad)

TERBENTUKNYA KONG KOAN (Chineesche Raad)
Kata “Kong Koan” atau Chineeshe Raad berasal dari kata “Kong” dan “Koan”. “Kong” berarti umum dan “Koan” berarti kantor. Maksud dari kata-kata tersebut yaitu menjelaskan adanya suatu perkumpulan para pedagang besar dan sukses yang memiliki tujuan dalam perdagangan. Hal ini ada hubungannya dengan kongsi. Sebenarnya kata “kongsi” sendiri hanya digunakan di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Sebutan kongsi ditujukan untuk luitenant-luitenant Tionghoa. Memang aneh, mengapa orang Tionghoa tidak mengatakan atau menyebutkan bahwa kata loei-ten-lan atau leknan untuk seorang petugas kantor (officer). Sedangkan, dalam beberapa catatan yang telah ditemukan ditulis sama “loei-ten –lan”. Asal-usul dari sebutan tersebut ialah sekitar tahun 1770, orang mulai mendengar beberapa sebutan tersebut. Sebab, pada masa itu masing-masing luitenant memiliki pekerjaan penting yang harus dipikul. Pekerjaan pribadi dari para Majoor, Kapitein serta Luitenant dari bangsa Tionghoa pada masa itu adalah menjadi pachter (pedagang besar dalam perdagangan) dari pasar yang mengurus mengenai kayu, garam, penangkapan ikan dan sebagainya. Mereka juga memberi pacht atau semacam bukti dalam melakukan pekerjaan. Untuk mengurus kepentingan-kepentingan sendiri dan umum untuk bangsa Tionghoa, seorang luitenant kepala disediakan suatu ruangan yang dinamakan KONG KOAN. Nama Kong Koan ditujukan pada urusan perdagangan dan kepentingan kongsi. Namun, lambat laun organisasi Kong Koan  ini tidak hanya untuk kepentingan dagang, tapi sudah mulai menjadi informasi center bagi para pedagang pendatang dari China. Bahkan, Kong Koan kala itu sudah menjadi semacam “Badan Penoenjoek”. Para pedagang China yang baru datang ke Semarang akan mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan di Kong Koan.
Sebagai pemimpin “Boedelkamer”(nama perusahaan) pada waktu itu, ketika perusahaan dipegang oleh seorang Kapitein yang bernama Tan Lik Sing. Beliau dibantu oleh para pekerjanya dalam menangani segala urusan yang menyangkut orang Tionghoa. Beliau dibantu tuan Tan Yok Seng yang mengganti tuan Tan Hie Hoen dan Tjan Kong Wan yang mengganti kedudukan dari tuan The Tie King. Karena merasa memerlukan seorang pekerja yang membantu dalam mencatat hal-hal yang perlu sebagai juru tulis, atau yang sekarang disebut sekretaris. Pada akhirnya, perusahaan mengijinkan Kapitein Tan Lik Sing untuk mengangkat juru tulis baru yaitu tuan Oei He Ling. Hal itu dikarenakan makin meningkatnya urusan yang menyangkut masalah penduduk Tionghoa.
Jika kita mengingat tempo dulu, yang menjadi alasan mengapa orang Tionghoa hijrah ke Semarang selain alasan berdagang yaitu sekitar tahun 1740 terjadi pembunuhan bangsa Tionghoa di Jakarta yang mengakibatkan hampir semua pendatang yang dari Tiongkok hijrah ke Semarang. Berhubung Semarang terletak ditengah-tengah kepulauan Indonesia yang juga sangat strategis,b Semarang juga merupakan kota perdagangan yang sedang berkembang, maka Semarang-lah yang menjadi tempat naungan bagi para pendatang dalam mendapatkan perlindungan maupun tempat mencari nafkah. Akibat dari kejadian tersebut, bangsa Tiongkok dan Tionghoa berdomisili di kota Semarang dalam suatu area tertentu yang disebut sekarang ini sebagai daerah PECINAN. Dan secara otomatis, pekerjaan dari Kong Koan serta badan penerangan pada saat itu semakin banyak.
Pada waktu itu, tugas dari Kong Koan memberikan informasi penting kepada orang Tionghoa. Kemudian tugas-tugasnya semakin bertambah. Tak heran, jika pedagang China yang terlibat dalam organisasi ini semakin besar. Pada perkembangannya, Kong Koan tak sekadar memberikan bantuan informasi, tapi juga mulai memberikan bantuan sosial warga yang sakit dan meninggal. Apalagi pada tahun 1830, wilayah Semarang dilanda wabah penyakit. Bahkan, wabah penyakit tersebut telah menjalar hingga ke kampung-kampung di kawasan Pecinan. Apalagi pada waktu itu, di jalanan masih banyak sampah yang menumpuk, kondisi jalanan masih sangat jelek dan kumuh, serta tidak adanya air minum yang bersih. Ditambah, pengetahuan tentang kebersihan dan kesehatan masyarakat masih sangat kurang. Akibatnya, wabah penyakit pun menjalar dengan cepat. Mengingat semua itu, ada seorang yang kaya raya yang bernama Tan Hong Yan membantu orang-orang yang kurang mampu. Beliau kemudian mendirikan balai pengobatan bagi mereka yang kurang mampu. Beliau merasa iba dan tidak melihat banyak orang yang menderita karena wabah penyakit tersebut. Jadi, beliau ingin berbagi kasih dengan mereka dengan mendirikan balai pengobatan tersebut.
Karena kurangnya pengetahuan dalam menjaga kebersihan dan kesehatan, membuat penyakit tersebut susah untuk dimusnahkan. Dan kemudian muncullah inisiatif penggunaan obat-obatan dari Tionghoa atau China. Penyakit-penyakit tersebut akhirnya dapat berkurang dan orang mulai agak lebih baik dari sebelumnya. Pada zaman dahulu, belum dikenal yang namanya ilmu kedokteran. Dan akhirnya digunakan obat-obatan tradisional dari China. Disamping itu, para pembesar negeri tidak tinggal diam. Mereka melakukan pencegahan agar wabah tersebut tidak menyebar luas ke daerah-daerah lain.
Supaya dapat membagi waktu dan dapat membantu orang dalam menyelesaikan masalah, Kapitein Tan Hong Yan lalu mengadakan rembug atau diskusi di Gedong Gulo. Maka dari itu, dia mendirikan Kongkoan yang bertujuan memberikan informasi pada orang-orang yang membutuhkan. Seorang penulis yang ada di Kong Koan akan mencatat apa yang dikeluhkan dan apa yang menjadi masalah. Jika sekretaris tersebut tidak dapat memberi keputusan, barulah Tuan Tan Hong Yan memberikan solusinya. Sebenarnya tugas dari sekretaris zaman dulu lebih susah bila dibandingkan dengan sekarang. Ia lebih sering dihadapkan dengan orang-orang yang tidak punya pengertian sama sekali. Dari sumber yang telah dikemukakan oleh orang Tionghoa, Kong Koan berdiri di Semarang sekitar tahun 1835. Dan pada tahun tersebut ialah awal berdirinya Kong Koan. Di Gedong Goelo itu, setiap saat masyarakat bisa hadir untuk meminta keterangan yang diperlukan kepada secretaris. Yang berbeda dengan Kong Koan untuk kepentingan kongsi dagang yang berdiri pada era Majoor Tan Tiang Tjhing, yang tak lain adalah ayah dari Kapitein Tan Hong Yan. Mengingat jasa-jasa Kapitein Tan Hong Yan yang begitu besar tersebut, maka pemerintah kala itu menganugerahkan gelar Majoor Titulair kepada putra keempat Majoor Tan Tiang Tjhing ini. Penganugerahan gelar tersebut disambut dengan suatu pesta besar yang penuh gegap gempita. Begitu menyandang gelar Majoor Titulair, nama Tan Hong Yan semakin termasyur. Selain itu dunia perdagangan di Semarang semakin maju. Itu ditandai dengan kedatangan para pedagang dari China ke Semarang. Para pendatang ini membutuhkan keterangan-keterangan tentang peraturan negara, peraturan pajak dan lain sebagainya. Mereka datang langsung ke Gedong Goelo. Majoor Titulair Tan Hong Yan pun berkewajiban untuk memberikan semua informasi tersebut.

Read more ...

Sejarah Kondisi Daerah Pecinan

KONDISI DAERAH PECINAN
Kedatangan saudagar-saudagar dari Pakistan, India, Arab serta Negara Timur Tengah Semarang ikut memberi kontribusi bagi terbentuknya sejumlah kampung baru. Mereka bukan hanya datang untuk berdagang saja, tetapi juga ikut bermukim dan menetap. Pemukiman itu lantas berkembang dan menjadi sebuah kampung sendiri. Misalnya saja orang-orang Tionghoa yang berkumpul dalam suatu wilayah dan menjadikannya wilayah tersebut daerah orang-orang Cina. Daerah tersebut dinamakan daerah PECINAN. Awalnya daerah tersebut sangat kecil dan terbatas dan orang tidak akan merasa susah dalam pencarian suatu tempat. Kemudian makin meluas karena banyaknya orang-orang Cina yang hijrah dan menetap disana. Waktu itu, gang-gang di Semarang juga belum memiliki nama-nama tertentu yang memudahkan orang dalam menyebutkan area tersebut. Nama-nama daerah tersebut yang sekarang ini diketahui banyak orang, antara lain: Pekojan, Jagalan, Petudungan, Beteng, Wot Gandul Timur, Wot Gandul Barat, Sebandaran. Dari nama-nama jalan tersebut terdapat gang-gang yang membedakan gang satu dengan yang lain, yaitu: Lombok, Petolongan, Pinggir, Kapuran, Tireman, Kulitan, Kulitan, Besen, Warung, dan sebagainya. Masing-masing daerah memiliki sejarahnya masing-masing dan dari keseluruhannya nama-nama tersebut saling berkaitan. Misalnya saja daerah Pekojan yang merupakan salah satu diantaranya. Kampung ini  dulunya hanya berupa hutan dan tegalan. Suasananya sangat gelap, dan sunyi. Bahkan mereka yang melewati kawasan tersebut merasa takut karena terdapat kuburan orang Tionghoa.
Pada tahun 1797, penguasa Belanda menebangi hutan yang berada di kawasan tersebut, yang kemudian dirombak menjadi kawasan pemukiman. Pekuburan Tionghoa dipindah ke kaki Candi, Gergaji, dan Siranda. Proses perpindahan makam itu dikatakan sempat menimbulkan ketegangan antara masyarakat Tionghoa dan Pemerintah Belanda. Ketika itu, masyarakat Tionghoa tidak begitu saja menerima rencana pemindahan makam kuno tersebut. Hal yang harus dilakukan yaitu melakukan ritual-ritual tertentu untuk menghindari hal-hal yang seharusnya tidak terjadi. Dan akhirnya diadakan upacara untuk menolak bala. Salah satu peninggalannya adalah sebaris huruf Cina yang dipahatkan di Jalan Pekojan. Hingga saat ini masih bisa dilihat. Selang beberapa waktu kemudian, para pedagang Koja mendiami kawasan tersebut higga jumlahnya makin banyak sampai sekarang. Kemudian kawasan tersebut dikenal dengan sebutan PEKOJAN. Saat ini Pekojan menjadi kawasan padat pertokoan dan pemukiman. Namun anehnya, para koja yang dulu menjadi perintis malah banyak meninggalkan kawasan ini. Yang tersisa hanyalah tiga kepala keluarga. Kebanyakan mereka pindah ke kampong sebelahnya, yaitu Petolongan. Dan menurut sumber, daerah Petolongan adalah dulunya merupakan daerah yang dimana orang khususnya orang Tionghoa ingin mendapatkan pertolongan karena mereka merasa dalam keadaan bahaya. Jiwa mereka terasa terancam karena adanya pembantaian orang-orang Tionghoa. Kemudian mereka lari ke suatu tempat yang sekarang disebut jalan Petolongan. Para penghuninya kebanyakan memang orang Tionghoa. Ada lagi cerita mengenai daerah selain Pekojan dan Petolongan. Disana terdapat penduduk yang kebanyakan mereka berprofesi sebagai tukang potong hewan yang disebut sebagai jagal. Maka nama daerah tersebut dinamakan JAGALAN. Tepat disebelah daerah itu, terdapat perkampungan dimana penduduknya menerima hasil dari sisa-sisa para jagalhewan tersebut. Antara lain kulit yang kemudian disamak oleh mereka. Sehingga dari situlah mereka menyebutnya sebagai KAMPONG KULITAN.
Orang-orang Tionghoa yang tinggal di Semarang mempunyai kehidupan yang semakin hari semakin baik. Waktu itu masih disebut daerah Pecinan Lor yang sekarang ini disebut sebagai Gang Warung. Daerah tersebut sangatlah ramai dikunjungi baik orang Pribumi maupun orang Tionghoa sendiri. Tempat tersebut merupakan pusatnya perhubungan. Dari daerah tersebut mereka bisa berhubungan dengan orang sebelah barat yaitu dengan kampung orang pribumi yang sekarang dikenal sebagai daerah Kranggan dan pasar Semarang atau pasar Damaran. Sedangkan yang sebelah utara, orang-orang dapat menuju daerah-daerah kecil dengan melintasi sungai yang ada dipinggiran kali. Nama daerah tersebut dikenal sebagai daerah Petudungan. Selanjutnya dapat tersambung dengan daerah kecil lainnya misalnya yang sekarang ini menjadi Pandean, Jeruk Kingkit, Ambengan, dan lain-lain.
Berikutnya yaitu nama daerah yang sebagian besarnya adalah berprofesi sebagai bandar. Kata “bandar” disini bukan bandar dalam makna yang negatif. Bandar disini merupakan kata selain sebutan buat orang kaya yang benar-benar sukses. Maka nama daerah tersebut dinamakan SEBANDARAN. Tetapi waktu itu jalan yang melintas daerah Sebandaran belum ada. Jadi, hanya ada jembatan kecil yang menghubungkan satu daerah ke daerah lain. Misalnya saja ketika orang yang melintas Jagalan yang awalnya menghadap ke Ambengan. Orang-orang dapat menyeberangi jembatan kecil tersebut menuju ke daerah Pecinan sebelah selatan dengan menyeberang diatas jembatan kecil tersebut. Daerah itu dikenal dengan nama GANG PINGGIR. Adapun daerah yang kebanyakan penduduknya menjual aneka grabah, misalnya piring, gelas, cangkir, dan mangkok. Maka daerah tersebut disebut GANG MANGKOK.
Didalam gang-gang lain yang telah dituturkan masih merupakan tanah-tanah kosong yang waktu itu masih terasa sangat menyeramkan. Ditepi-tepi jalan terdapat pohon asem dan masih berupa tegalan. Jalan-jalan tersebut juga masih sangat sepi dan membuat orang membayangkan betapa menakutkan jika orang melintas daerah tersebut. Gang-gang tersebut antara lain Gang Belakang, Gang Besen, Gang Tengah, Gang Gambiran.
Saking banyaknya orang Tionghoa yang tinggal di Semarang, mereka kemudian mendirikan rumah-rumah yang kokoh, tidak lagi berupa papan atau kayu. Pada tahun 1672 mereka mulai mendirikan rumah bertembok dan berpayon genteng. Rumah- rumah tembok yang didirikan terlebih dulu yaitu daerah Pecinan Lor (Utara) dan Pecinan Wetan (Timur) atau yang sekarang disebut Gang Warung dan Gang Pinggir. Para pekerja atau tukang batu-pun sangat susah didapatkan. Maka, mereka mencari para pekerja Tionghoa dari Batavia karena hanya dari tempat tersebut mereka mendapatkan para pekerja Tionghoa yang pandai membuat rumah tembok. Ongkos yang dikeluarkan pada saat itupun tidaklah sedikit. Karena, bahan-bahan pembuatan rumah masih sangat langka dan tidak mudah dicari. Misalnya saja kapur atau semen. Bahan tersebut harus didatangkan dari tempat lain yang memakan waktu yang lama. Selain itu, menghabiskan banyak tenaga dan uang. Untuk mengangkut barang masih menggunakan tenaga kuda, yang oleh orang Tionghoa disebut BÉ-TOO. Karena jalannya masih sempit, terjal, berliku, naik, dan turun, maka mereka memilih tenaga kuda sebagai alat transportasinya. Karena mereka beranggapan bahwa hanya kuda yang mampu melakukan pekerjaan itu dengan baik.
Pembuatan rumah tembok yang masih terhitung mahal membuat orang berpikir untuk melakukannya. Hanya orang Tionghoa yang cukup atau saudagar besar saja yang melakukan hal tersebut.
Kembali berbicara mengenai daerah di Pecinan. Pecinan wetan (Timur) disebut oleh orang Tionghoa sebagai Tang-kee atau jalan wetan karena letaknya memang disebelah Timur. Sementara Gang Baru terkenal dengan sebutan Say-kee atau jalan barat, lantaran letaknya memang demikian. Tetapi belakangan oleh orang Tionghoa, sebutan itu di tujukan pada Gang  Belakang. Salah satu pedagang China yang tinggal di Kampung China (Pecinan) adalah Khouw Ping. Dia mentetap di daerah Tang Kee (Pecinan Wetan), sekarang di sekitar Gang Pinggir. Tuan Khouw Ping dikenal sebagai saudagar China yang dermawan dan berjiwa sosial tinggi. Banyak pedagang asal China yang dibantu oleh Khouw Ping. Misalnya, menyediakan gudang penyimpanan barang, perahu, dan penginapan. Walhasil, para pedagang China pun semakin berkembang. Setiap ada yang datang, pasti akan menguhjungi beliau karena beliau menyediakan gudang untuk menyimpan barang-barang mereka. Untuk mrengangkut barang-barang, mereka menggunakan perahu-perahu kecil yang menyusuri pinggiran kali kecil daerah Pecinan Wetan yang sekarang dikenal dengan nama KALI KOPING. Nama tersebut diambil dari Tuan Khouw Phing itu sendiri.
Mengenai usaha orang Tionghoa dalam melanjutkan hidup di daerah Semarang khususnya di Pecinan, banyak sekali usaha yang mereka punya dan dirikan. Sebelumnya telah kita singgung diatas, banyak perusahaan orang Tionghoa yang makin lama berkembang dengan pesat dan maju. Hal tersebut mengajak para saudagar lain untuk melakukan hal yang sama dibidang perdagangan. Dan akhirnya jumlah mereka bertambah banyak. Kemudian mereka berbondong-bondong dengan membawa barang-barang yang dianggap laku disana, misalnya saja hasil pertanian atau perkebunan; lada, pala, kayu manis, dan lain-lain semacam rempah-rempah. Perusahaan yang penting bagi orang Tionghoa pada masa itu ialah perusahaan minyak kacang dan lilin. Kegunaan dari minyak kacang yaitu digunakan untuk memasak dan lampu penerangan. Sama halnya seperti pembuatan rumah, hanya orang Tionghoa yang mampu saja yang menggunakan minyak kacang sebagai lampu penerangan. Tempatnya-pun sangat besar karena sumbu-sumbunya besar pula. Dari keseluruhan usaha orang Tionghoa pada masa itu serasa mengajak para saudagar mendirikan perusahaan. Seperti yang diungkapkan sebelumnya, banyak perusahaan rokok, gedung bioskop, dan rumah makan atau restoran. Rata-rata pemiliknya yaitu orang Tionghoa.
Dari usaha-usaha tersebut menjadikan daerah Pecinan bertambah maju dan berkembang. Hal itu dapat dilihat dengan padat dan tingginya jumlah penduduk yang ada disana, serta munculnya berbagai macam toko yang bergerak dibidang apa saja. Semua kebutuhan dapat ditemukan disana, mulai barang yang digunakan sehari-hari maupun barang-barang mewah. Semua barang dapat kita peroleh disana.

Read more ...